MAKALAH SISTEM IMUN TUBUH MANUSIA

 MAKALAH ANATOMI FISOLOGI MANUSIA LANJUT

“SISTEM IMUN”

Dosen Pengampu : Dr. Nurkhairo Hidayati, M.Pd



Oleh:

Kelompok 6

Dina Wahyuni (156510167)

Revi Rezki Febrianti (186510386)

Revida Rani (186510146)



Kelas 5A


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS ISLAM RIAU

2020


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur marilah kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmatnya kepada hambanya dan sholawat serta salam marilah kita panjatkan kepada Rasulullah SAW, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Anatomi Fisiologi Manusia Lanjut yang berjudul “Sistem Imun”.

Kami menyampaikan rasa terima kasih yang sebanyak-banyaknya untuk Ibu Dr. Nurkhairo Hidayati, M.Pd selaku dosen mata kuliah Anatomi Fisiologi Manusia Lanjut yang telah menyerahkan kepercayaannya kepada kami guna menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu.Kami juga berharap dengan sungguh-sungguh supaya makalah ini mampu berguna serta bermanfaat dalam meningkatkan pengetahuan sekaligus wawasan terkait dengan pentingnya prinsip-prinsip pembelajaran

Selain itu, kami juga sadar bahwa pada makalah ini dapat ditemukan banyak sekali kekurangan serta jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu, kami benar-benar menanti kritik dan saran untuk kemudian dapat kami revisi dan kami tulis di masa yang selanjutnya, sebab sekali lagi kami menyadari bahwa tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa disertai saran yang konstruktif.

Di akhir kami berharap makalah sederhana kami ini dapat dimengerti oleh setiap pihak yang membaca. Kami pun memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila dalam makalah kami terdapat perkataan yang tidak berkenan di hati.


Pekanbaru, 13 September 2020


Penulis


DAFTAR ISI



KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I 1

PENDAHULUAN 1

1.1 Latar Belakang 1

1.2 Rumusan Masalah 1

1.3 Tujuan Masalah 2

BAB II 3

PEMBAHASAN 3

2.1 Pengertian Sistem Kekebalan Tubuh dan Fungsinya 3

2.2 Perbedaan Antigen dan Antibody 4

2.3 Jenis-jenis  Pertahanan Tubuh 8

2.4 Mekanisme Pertahanan Tubuh 9

2.5 Kelainan dan Penyakit pada System Kekebalan Tubuh 14

BAB III 16

PENUTUP 16

3.1       Kesimpulan 16

3.2       Saran 16

DAFTAR PUSTAKA 17



BAB I

PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang

Sistem kekebalan atau sistem imun  adalah sistem perlindungan pengaruh luar biologis yang dilakukan oleh sel dan organ khusus pada suatu organisme. Jika sistem kekebalan bekerja dengan benar, sistem ini akan melindungi tubuh terhadap infeksi bakteri dan virus, serta menghancurkan sel  kanker dan zat asing lain dalam tubuh. Jika sistem kekebalan melemah, kemampuannya melindungi tubuh juga berkurang, sehingga menyebabkan patogen, termasuk virus yang menyebabkan demam dan flu, dapat berkembang dalam tubuh. Sistem kekebalan juga memberikan pengawasan terhadap sel tumor, dan terhambatnya sistem ini juga telah dilaporkan meningkatkan resiko terkena beberapa jenis kanker. Merupakan salah satu usaha manusia untuk menjadikan individu kebal terhadap suatu penyakit,

Kemampuan sistem kekebalan untuk membedakan komponen sel tubuh dari komponen patogen asing akan menopang amanat yang diembannya guna merespon infeksi patogen, baik yang berkembangbiak di dalam sel tubuh (seperti virus) maupun yang berkembangbiak di luar sel tubuh, sebelum berkembang menjadi penyakit.

Sistem kekebalan atau imun seseorang berbeda beda , sesuai dengan kondisi seseorang , proses mekanisme tubuh terhadap keadaan di sekitar lingkungannya berbeda beda ,karena pertahan tubuh seseorang dalam respon cuaca atau kondisi dimana si tubuh rentan terhadap virus atau penyakit di sekitarnya  , antibody dalam tubuh seseorang sesuai dengan kondisi badan .

1.2 Rumusan Masalah

Apakah yang dimaksud dengan system kekebalan tubuh dan fungsinya ?

Apa perbedaan antigen dan antibody ?

Apa sajakah jenis-jenis kekebalan  tubuh pada manusia?

Bagaimana mekanisme pertahanan tubuh ?

Apa sajakah kelainan / gangguan yang dapat  terjadi  pada system imun tubuh manusia ?


1.3 Tujuan Masalah

Untuk mengetahui apa itu sistem kekeblan tubuh dan fungsinya

Untuk mengetahui perbedaan antigen dan antibody

Untuk mengetahui jenis-jenis system kekebalan  tubuh pada manusia

Untuk mengetahui bagaimana mekanisme kerja sistem imun pada manusia.

Untuk mengetahui kelainan / gangguan yang dapat  terjadi  pada system imun tubuh manusia



























BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Sistem Kekebalan Tubuh dan Fungsinya

Sistem imun adalah semua mekanisme yang digunakan tubuh untuk mempertahankan keutuhan tubuh, sebagai perlindungan terhadap bahaya yang dapat ditimbulkan berbagai bahan dalam lingkungan hidup. Sistem kekebalan atau sistem imun  adalah sistem perlindungan pengaruh luar biologis yang dilakukan oleh sel dan organ khusus pada suatu organisme. Jika sistem kekebalan bekerja dengan benar, sistem ini akan melindungi tubuh terhadap infeksi bakteri dan virus, serta menghancurkan sel  kanker dan zat asing lain dalam tubuh. Jika sistem kekebalan melemah, kemampuannya melindungi tubuh juga berkurang, sehingga menyebabkan patogen, termasuk virus yang menyebabkan demam dan flu, dapat berkembang dalam tubuh. Sistem kekebalan juga memberikan pengawasan terhadap sel tumor, dan terhambatnya sistem ini juga telah dilaporkan meningkatkan resiko terkena beberapa jenis kanker.

Sistem imun adalah serangkaian molekul, sel dan organ yang bekerja sama dalam mempertahankan tubuh dari serangan luar yang dapat mengakibatkan penyakit, seperti bakteri,jamur dan virus. Kesehatan tubuh bergantung pada kemampuan sistem imun untuk mengenali dan menghancurkankan serangan ini. jadi kalo kelainan sistem imun berarti kemampuan untuk mempertahankan kekebalan tubuh terganggu sehingga mudah diserang penyakit. Sistem Imun (bahasa Inggris: immune system) adalah sistem pertahanan manusia sebagai perlindungan terhadap infeksi dari makromolekul asing atau serangan organisme, termasuk virus, bakteri, protozoa dan parasit. Sistem kekebalan juga berperan dalam perlawanan terhadap protein tubuh dan molekul lain seperti yang terjadi pada autoimunitas, dan melawan sel yang teraberasi menjadi tumor.

Adapun fungsi dari sistem imun, antara lain:

-Pembentuk kekebalan tubuh.

-Penolak dan penghancur segala bentuk benda asing yang masuk ke dalam tubuh.

-Pendeteksi adanya sel abnormal, infeksi dan patogen yang membahayakan.

-Penjaga keseimbangan komponen dan fungsi tubuh.

-Melindungi tubuh dari invasi penyebab penyakit; menghancurkan & menghilangkan mikroorganisme atau substansi asing (bakteri, parasit, jamur, dan virus, serta tumor) yang masuk ke dalam tubuh .

-Menghilangkan jaringan atau sel yg mati atau rusak (debris sel) untuk perbaikan jaringan.

-Mengenali dan menghilangkan sel yang abnormal.

Sel-sel sistem kekebalan tubuh adalah sel darah putih atau leukosit.Tugasnya adalah untuk membunuh organisme yang menyebabkan infeksi dan penyakit dalam tubuh. Leukosit dibentuk di berbagai bagian tubuh seperti timus , limpa (limpa), dan sumsum tulang . Ada dua jenis leukosit:

Fagosit – Sel-sel ini tampaknya menyerang organisme. Neutrofil adalah bentuk paling umum dari fagosit. Fungsi utama mereka adalah untuk melawan bakteri.

Limfosit – Sel-sel ini yang pertama dn bertugas mencari organisme dan membantu untuk memerangi mereka. Limfosit dimulai di sumsum tulang secara aktif mencari organisme penyebab penyakit dalam tubuh.


2.2 Perbedaan Antigen dan Antibody

Antigen  (imunogen)

Antigen merupakan molekul yang biasanya dimiliki oleh virus, bakteri, fungi, protozoa dan juga cacing parasit. Molekul antigenik biasanya bisa ditemukan pada bagian permukaan dari suatu zat asing yakni seperti halnya pada serbuk sari dan bisa juga jaringan hasil dari proses pencangkokkan. Antigen dapat dikatakan sebagai sebuah zat yang bisa melakukan stimulasi terhadap tanggapan atau respon imun, terutama pada saat proses produksi antibodi. 

Fungsi antigen sendiri yakni digunakan untuk menggambarkan suatu molekul yang bisa dimanfaatkan dalam upaya memacu proses respon imun yang biasanya disebut dengan imunogen. Kemudian digunakan dalam upaya menunjukkan suatu molekul bisa melakukan reaksi dengan antibodi atau pun sel T yang sudah melalui proses disensitasi. Antigen sendiri tersusun oleh epitop dan juga paratop. Epitop atau sering disebut dengan determinan merupakan suatu bagian dari antigen yang memiliki peran sebagai pengenal atau bisa juga sebagai penginduksi dalam proses pembentukan antibodi. Sedangkan paratop merupakan suatu bagian dari antibodi yang bisa membantu melakukan pengikatan terhadap epitop. 

Mekanisme pembentukan antigen sendiri tidak bisa lepas dengan antibodi. Pada bagian tubuh manusia, antibodi bisa diperoleh dari organ limfoid sentral yang tersusun dari sumsum tulang belakang dan juga kelenjar timur (yang paling utama adalah diperoleh dari sel-sel limfosit). Sel limfosit sendiri dapat dibedakan menjadi dua bagian yakni sel limfosit B dan juga sel limfosit T. Antara sel limfosit B dan sel limfosit T akan melakukan kerja sama dalam upaya memproduksi antibodi yang ada pada tubuh. Hal seperti ini bisa dilihat apabila antigen sedang berada dalam tubuh. 

Respon Kekebalan Tubuh Terhadap Antigen :

1. Kekebalan humoral

Melibatkan aktivasi limfosit B yang kan mensekresikan antibodi

2. Kekebalan seluler

Disebut juga kekebalan yang diperantarai sel (cell-mediated immunity) Yang berperan adalah sel limfosit T.

3. Memori imunologis

Dasar dari memori imunologis adalah kemampuan sistem kekebalan untuk membangkitkan respon kekebalan sekunder.


Antibodi (Immunoglobulin/Ig)

              Antibodi merupakan susunan dari protein-protein yang bersifat globular yang biasanya dikodekan dengan gen-gen yang tentunya spesifik. Antibodi sendiri dapat dikenal sebagai imunoglobin dengan asumsi selain karena karakteristik globularnya, ternyata juga karena hubungan yang terjadi dengan respons imun. Sebuah antigen yang mempunyai sifat kompleks, maka akan mampu bereaksi terhadap lebih dari satu antibodi walaupun hal tersebut tidak lazim terjadi. Selain itu, biasanya antigen yang melakukan reaksi terhadap antibodi pada tahap awal, maka dalam upaya memperoleh proliferasi limfosit harus dalam bentuk molekul-molekul besar. Nantinya, hanya pada bagian deteminan antigenik saja yang akan mempunyai peran dalam proses meneruskan respons imun tersebut. 

Antibodi dibedakan menjadi lima tipe, yaitu:

1. IgG: pada reaksi imun sekunder yang di produksi pulang bayak.karena IgG dapat menembus jaringan plasenta, ia dapat memberikan proteksi utama pada bayi dan menambah daya kekebalan, peran utamanya: menetralisis toksin kuman dan melekat pd kuman sebagai persiapan fagositosis

2. IgA: dapat dikeluarkan scr selektif di dalam sekresi seeperti air ludah,keringat,air mata,lendir hidung,kolostrum, sekresi sal.pernafasan dan pencernaan (dikenal sbg copro antibodies). IgA keluar dengan sekret di produksi secara lokal o/sel plasma. Fungsi : untuk mematikan kuman koliform, kemampuan IgA u/ melekat pd sel polimorf dan melancarkan reaksi komplemen melalui jalan metabolisme alternative

3. IgM : dalam bentuk bebas bentuknya seperti bintang tetapi bila terikat pada permukaan .sel ia akan berbentuk seperti kepiting

4. IgD : pada permukaan sel limfosit dlm tali pusar dan sebagai reseptor yang pertama dalam permulaan kehidupan sebelum diambil  alih fungsinya oleh IgM dan imunoglobulin setelah sel  tubuh berdiferensiasi lebih jauh.

5. IgE : jumlah paling kecil ,bila disuntikan ke dalam kulit akan terikat pd mast cells, kontak dengan Ag menyebabkan degranulasi dr mast cell pengeluaran zat amin dan vaso-aktif , peran belum  jelas ,tetapi kadar dalam serumnya akan meningkat pd infeksi parasi,terutama infeksi oleh cacing

Fungsi Dan Pembentukan Antibodi adalah Sel limfosit B akan melakukan proses pengidentifikasian terlebih dahulu terhadap antigen merupakan fungsi dari antibodi. Sel limfosit B juga mengalami proses replikasi dengan sangat cepat sehingga akan menciptakan sebagian besar sel yang biasanya disebut sebagai sel B plasma. Pada sel B plasma akan menciptakan antibodi yang mempunyai sifat spesifik dengan satu jenis dari antigen dan nantinya akan melakukan proses pelepasan ke bagian dalam sistem sirkulasi yang ada pada tubuh.

Selain menciptakan sel B plasma, pada sel limfosit B juga menciptakan sel B memori dan juga sel B pembelah. Untuk sel B memori mempunyai kemampuan untukhidup dalam kurun waktu yang relatif lama. Jika terjadi suatu proses infeksi maka untuk tahap kedua kalinya, pada bagian sel B memori akan melakukan reaksi dengan relatif lebih cepat dan tentunya lebih giat lagi daripada bagian sel B yang lainnya.Sedangkan pada bagian sel B pembelah, mempunyai fungsi dalam menciptakan sel-sel limfosit sehingga bisa menjadi lebih banyak lagi.


2.3 Jenis-jenis  Pertahanan Tubuh

1.Kekebalan Aktif

Kekebalan aktif merupakan kekebalan yang dihasilkan oleh tubuh itu sendiri. Kekebalan aktif dibagi menjadi:

a. Kekebalan Aktif Alami

Kekebalan aktif alami diperoleh seseorang setelah mengalami sakit akibat infeksi suatu kuman penyakit. Setelah sembuh, orang tersebut akan menjadi kebal terhadap penyakit itu. Misalnya, seseorang yang pernah sakit campak tidak akan terkena penyakit tersebut untuk kedua kalinya.

 b. Kekebalan Aktif Buatan

Kekebalan aktif buatan diperoleh melalui vaksinasi atau imunisasi. Vaksinasi adalah proses pemberian vaksin ke dalam tubuh. Vaksin merupakan siapan antigen yang dierikan secara oral (melalui mulut) atau melalui suntikan untuk merangsang mekanisme pertahanan tubuh terhadap patogen. Vaksin dapat berupa suspensi mikroorganisme yang telah dilemahkan atau dimatikan. Vaksin juga dapat berupa toksoid atau ekstrak antigen dari suatu patogen yang telah dilemahkan. Vaksin yang dimasukkan ke dalam tubuh akan menstimulasi pembentukan antibodi untuk melawan antigen sehingga tubuh menjadi kebal terhadap penyakit yang menyerangnya.

Beberapa jenis penyakit yang dapat dicegah dengan vaksinasi antara lain cacar, tuberkulosis, dipteri, hepatitis B, pertusis, tetanus, polio, tifus, campak, dan demam kuning. Vaksin untuk penyakit tersebut biasanya diproduksi dalam skala besar sehingga harganya dapat terjangkau oleh masyarakat.

2. Kekebalan Pasif

Kekebalan pasif merupakan kebalikan dari kekebalan aktif. Kekebalan pasif diperoleh setelah menerima antibodi dari luar tubuh, baik secara alami maupun buatan.

    a. Kekebalan Pasif Alami

Kekebalan pasif alami dapat ditemukan pada bayi setelah menerima antibodi dari ibunya melalui plasenta saat masih berada di dalam kandungan. Kekebalan ini juga dapat diperoleh dengan pemberian ASI pertama (kolostrum) yang mengandung banyak antibodi.

   b. Kekebalan Pasif Buatan

Kekebalan pasif buatan diperoleh dengan cara menyuntikkan antibodi yang diekstrak dari suatu individu ke tubuh orang lain sebagai serum. Kekebalan ini berlangsung singkat, tetapi mampu menyembuhkan dengan cepat. Contohnya adalah pemberian serum antibisa ular kepada orang yang dipatuk ular berbisa.

2.4 Mekanisme Pertahanan Tubuh

1. Sistem Pertahanan Tubuh Non Spesifik atau Inate Immunity

Sistem Pertahanan Tubuh Non Spesifik merupakan pertahanan tubuh yang tidak membedakan mikrobia patogen satu dengan yang lainnya. Dapat mendeteksi adanya benda asing dan melindungi tubuh dari kerusakan, namun tidak dapat mengenali benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Sistem imun ini telah ada dalam tubuh sejak dilahirkan. Adapun ciri-cirinya yaitu tidak selektif, tidak mampu mengingat infeksi yang terjadi sebelumnya, respon segera bereaksi begitu hospes mengenali adanya serangan mikroorganisme, memiliki komponen yang mampu menangkal benda untuk masuk ke dalam tubuh.

Sistem pertahanan ini diperoleh melalui beberapa cara, yaitu :

a). Sistem Pertahanan Non-spesifik  Eksternal 

Pertahanan Fisik. Pertahanan secara fisik dilakukan oleh lapisan terluar tubuh, yaitu kulit dan membran mukosa, yang berfungsi menghalangi jalan masuknya patogen ke dalam tubuh.

Pertahanan Mekanis. Pertahanan secara mekanis dilakukan oleh rambut hidung dan silia pada trakea. Rambut hidung berfungsi menyaring udara yang dihirup dari berbagai partikel berbahaya dan mikrobia. Sedangkan silia berfungsi menyapu partikel berbahaya yang terperangkap dalam lendir untuk kemudian dikeluarkan dari dalam tubuh.

Pertahanan Kimiawi. Perta hanan secara kimiawi dilakukan oleh sekret yang dihasilkan oleh kulit dan membran mukosa. Sekret tersebut mengandung zat-zat kimia yang dapat menghambat pertumbuhan mikrobia 

Pertahanan Biologis. Pertahanan secara biologi dilakukan oleh populasi bakteri tidak berbahaya ( Flora normal ) yang hidup di kulit dan membran mukosa. Bakteri tersebut melindungi tubuh dengan cara berkompetisi dengan bakteri patogen dalam memperoleh nutrisi.

b). Sistem Pertahanan Non-spesifik Internal  

1. Respons Peradangan (Inflamasi)

Inflamasi merupakan respons tubuh terhadap kerusakan jaringan, misalnya akibat tergores atau benturan keras. Proses inflamasi merupakan kumpulan dari empat gejala sekaligus, yakni dolor (nyeri), rubor (kemerahan), calor (panas), dan tumor (bengkak).

Inflamasi berfungsi mencegah penyebaran infeksi dan mempercepat penyembuhan luka. Reaksi inflamasi juga berfungsi sebagai sinyal bahaya dan sebagai perintah agar sel darah putih (neutrofil dan monosit) melakukan fagositosis terhadap mikrobia yang menginfeksi tubuh. Mekanisme inflamasi dapat dijelaskan sebagai berikut :

Adanya kerusakan jaringan sebagai akibat dari luka, sehingga mengakibatkan patogen mampu melewati pertahanan tubuh dan menginfeksi sel-sel tubuh.

Jaringan yang terinfeksi akan merangsang mastosit untuk mengekskresikan histamin dan prostaglandin.

Terjadi pelebaran pembuluh darah yang meningkatkan kecepatan aliran darah sehingga permeabilitas pembuluh darah meningkat.

Terjadi perpindahan sel-sel fagosit (neutrofil dan monosit) menuju jaringan yang terinfeksi.

Sel-sel fagosit memakan patogen.

2. Fagositosis

Fagositosis adalah mekanisme pertahanan yang dilakukan oleh sel-sel fagosit dengan cara mencerna mikrobia/partikel asing. Sel fagosit terdiri dari dua jenis, yaitu fagosit mononuklear dan fagosit polimorfonuklear. Contoh fagosit mononuklear adalah monosit (di dalam darah) dan jika bermigrasi ke jaringan akan berperan sebagai makrofag. Contoh fagosit polimorfonuklear adalah granulosit, yaitu neutrofil, eosinofil, basofil, dan cell mast (mastosit). Sel-sel fagosit akan bekerja sama setelah memperoleh sinyal kimiawi dari jaringan yang terinfeksi patogen.

 Berikut ini adalah proses fagositosis :

Pengenalan (recognition), mikrobia atau partikel asing terdeteksi oleh sel-sel fagosit.

Pergerakan (chemotaxis), pergerakan sel fagosit menuju patogen yang telah terdeteksi.

Perlekatan (adhesion), partikel melekat dengan reseptor pada membran sel fagosit.

Penelanan (ingestion), membran sel fagosit menyelubungi seluruh permukaan patogen dan menelannya ke dalam sitoplasma yang terletak dalam fagosom.

Pencernaan (digestion), lisosom yang berisi enzim-enzim bergabung dengan fagosom membentuk fagolisosom dan mencerna seluruh permukaan patogen hingga hancur. Setelah infeksi hilang, sel fagosit akan mati bersama dengan sel tubuh dan patogen. Hal ini ditandai dengan terbentuknya nanah.

Pengeluaran (releasing), produk sisa patogen yang tidak dicerna akan dikeluarkan oleh sel fagosit.

3. Protein Antimikrobia

Protein yang berperan dalam sistem pertahanan tubuh non spesifik adalah protein komplemen dan interferon. Protein komplemen membunuh patogen dengan cara membentuk lubang pada dinding sel dan membran plasma bakteri tersebut. Hal ini menyebabkan ion Ca2+ keluar dari sel, sementara cairan dan garam-garam dari luar bakteri akan masuk ke dalamnya dan menyebabkan hancurnya sel bakteri tersebut.

Interferon dihasilkan oleh sel yang terinfeksi virus. Interferon dihasilkan saat virus memasuki tubuh melalui kulit dan selaput lendir. Selanjutnya, interferon akan berikatan dengan sel yang tidak terinfeksi. Sel yang berikatan ini kemudian membentuk zat yang mampu mencegah replikasi virus sehingga serangan virus dapat dicegah.

 2. Sistem Pertahanan Tubuh Spesifik atau  Adaptive Immunity

Sistem pertahanan tubuh spesifik merupakan pertahanan tubuh terhadap patogen tertentu yang masuk ke dalam tubuh. Sistem ini bekerja apabila patogen telah berhasil melewati sistem pertahanan tubuh non spesifik. Sistem imun ini diperoleh karena proses adaptasi. Adapun ciri-cirinya yaitu bersifat selektif, tidak memiliki reaksi yang sama terhadap semua jenis benda asing, mampu mengingat infeksi yang terjadi sebelumnya, melibatkan pembentukan sel-sel tertentu dan zat kimia (antibodi), dan perlambatan waktu antara eksposur dan respons maksimal

Sistem pertahanan ini diperoleh melalui beberapa cara, yaitu :

1. Limfosit

A. Limfosit B (Sel B) 

Proses pembentukan dan pematangan sel B terjadi di sumsum tulang. Sel B berperan dalam pembentukan kekebalan humoral dengan membentuk antibodi. Sel B dapat dibedakan menjadi :

Sel B plasma, berfungsi membentuk antibodi.

Sel B pengingant, berfungsi mengingat antigen yang pernah masuk ke dalam tubuh serta menstimulasi pembentukan sel B plasma jika terjadi infeksi kedua.

Sel B pembelah, berfungsi membentuk sel B plasma dan sel B pengingat.

  B. Limfosit T (Sel T)

Proses pembentukan sel T terjadi di sumsum tulang, sedangkan proses pematangannya terjadi di kelenjar timus. Sel T berperan dalam pembentukan kekebalan seluler, yaitu dengan cara menyerang sel penghasil antigen secara langsung. Sel T juga membantu produksi antibodi oleh sel B plasma. Sel T dapat dibedakan menjadi :

Sel T pembunuh, berfungsi menyerang patogen yang masuk dalam tubuh, sel tubuh yang terinfeksi, dan sel kanker secara langsung.

Sel T pembantu, berfungsi menstimulasi pembentukan sel B plasma dan sel T lainya serta mengaktivasi makrofag untuk melakukan fagositosis.

Sel T supresor, berfungsi menurunkan dan menghentikan respons imun dengan cara menurunkan produksi antibodi dan mengurangi aktivitas sel T pembunuh. Sel T supresor akan bekerja setelah infeksi berhasil ditangani.

  2. Antibodi (Immunoglobulin/Ig)

Antibodi akan dibentuk saat ada antigen yang masuk ke dalam tubuh. Antigen adalah senyawa protein yang ada pada patogen sel asing atau sel kanker. Antibodi disebut juga immunoglobulin atau serum protein globulin, karena berfungsi untuk melindungi tubuh melalui proses kekebalan (immune). Antibodi merupakan senyawa protein yang berfungsi melawan antigen dengan cara mengikatnya, untuk selanjutnya ditangkap dan dihancurkan oleh makrofag.

Antibodi tersusun dari dua rantai polipeptida yang identik, yaitu dua rantai ringan dan dua rantai berat. Keempat rantai tersebut dihubungkan satu sama lain oleh ikatan disulfida dan bentuk molekulnya seperti huruf Y. Setiap lengan dari molekul tersebut memiliki tempat pengikatan antigen. Beberapa cara kerja antibodi dalam menginaktivasi antigen yaitu :

Netralisasi (menghalangi tempat pengikatan virus, membungkus bakteri dan atau opsonisasi)

 Aglutinasi partikel yang mengandung antigen, seperti mikrobia

Presipitasi (pengendapan) antigen yang dapat larut

Fiksasi komplemen (aktivasi komplemen)

2.5 Kelainan dan Penyakit pada System Kekebalan Tubuh

Penyakit dan gangguan sistem kekebalan tubuh yang dikategorikan tergantung dari aktivitas sistem kekebalan tubuh itu sendiri. Sistem kekebalan tubuh yang terlalu aktif berpotensi banyak untuk membahayakan kesehatan, dari pada sistem kekebalan tubuh yang kurang aktif. Berikut ini adalah daftar gangguan sistem kekebalan tubuh, tergantung pada aktivitas sistem kekebalan tubuh, antara lain:

Alergi : Merupakan suatu reaksi abnormal yang terjadi padaseseorang.Umumnya alergi bersifat khusus dan hanya muncul jikapenderita melakukan kontak dengan penyebab alergi.Alergi dapatditurunkan dari orang tua / keluarga dekat.Alergi dapat terjaddisecara tiba-tiba dan bersifat fatal terhadap penderita.Seseorangyang alergi akan mengalami gangguan emosi,konsentrasi,danlain-lain.Alergi terjadi karena penderita sangat sensitive terhadapallergen.

AIDSAIDS merupakan suatu sindrom atau penyakit yang disebabkan olehvirus HIV (Human Immunodeficiency Virus).Pada tubuh manusia,virus HIVhanya menyerang sel yang memiliki protein tertentu.protein itu ialah yangterdapat pada

Sel darah putih T4, yaitu sel darah putih yang berperanmenjaga system kekebalan tubuh. Apabila virus HIV menginfeksi tubuh,manusia akan mengalami penurunan system kekebalantubuh.Akibatnya,para penderita HIV-AIDS akan mudah terinfeksi berbagai jenis penyakit.Penderita HIV positif umumnya masih dapat hidup dengan normal dantampak sehat,tetapi dapat menularkan virus HIV.Penderita AIDS adalahpenderita HIV positif yang telah menunjukkan gejala penyakit AIDS.Waktuyang dibutuhkan seorang penderita HIV positif untuk menjadi penderita AIDSrelatif lama,yaitu antara 5-10 tahun.Bahkan ada penderita HIV positif yangseumur hidupnya tidak menjadi penderita AIDS.Hal tersebut dikarenakan

Virus HIV didalam tubuh membutuhkan waktu untuk menghancurkan system kekebalan tubuh penderita. Ketika system kekebalan tubuh sudah hancur,penderita HIV positif akan menunjukkan gejala penyakit AIDS.Penderita yang telah mengalami gejala AIDS atau penderita AIDS umumnya hanya mampu bertahan hidup selama dua tahun.








BAB III

PENUTUP

3.1       Kesimpulan

Sistem kekebalan atau sistem imun  adalah sistem perlindungan pengaruh luar biologis yang dilakukan oleh sel dan organ khusus pada suatu organisme. Jika sistem kekebalan bekerja dengan benar, sistem ini akan melindungi tubuh terhadap infeksi bakteri dan virus, serta menghancurkan sel  kanker dan zat asing lain dalam tubuh.

            Imunitas mengacu kepada respons protektif tubuh yang spesifik terhadap benda asing atau mikroorganismeyang menginvasinya. Komponen dan fungsi pada imunitas terdiri leukosit, sumsum tulang, jaringan limfoid yang terdiri dari kelenjar thymus, limfe, tonsil, lien,tonsil serta adenoid, dan jaringan serupa.

            Dari leukosit terdapat sel B dan sel T. sel B mencapai maturasinya pada sumsum tulang dan sel T mencapai maturasinya di kelenjar thymus. Imunitas dibagi menjadi imunitas alami dan imunitas yang didapat. Imunitas alami merupakan respons nonspesifik terhadap setiap penyerang asing tanpa mempertahankan komposisi penyerang tersebut.         

            Mekanismenya mencakup sawar fisik, kimia, sel darah putih, respon inflamasi. Imunitas yang didapat terdiri dari respon imun yang tidak dijumpai pada saat lahir tetapi akan diperoleh kemudian dalam hidup seseorang. Biasanya terjadi setelah seseorang terjangkit penyakit atau mendapatkan imunisasi yang menghasilkan respon imun yang bersifat protektif.

3.2       Saran

Menurut kelopmpok kami, system imun itu sangat penting bagi kehidupan kita karena apabila system imun tersebut terganggu, maka tubuh kita akan mudah terserang berbagai macam penyakit. Maka dari itu, sebaiknya kita menjaga imunitas tubuh kita dengan cara berolahraga dan mengonsumsi makanan yang bergizi, melakukan peningkatan terhadap sistem kekebalan tubuh dan melakukan imunisasi dasar untuk menjaga tubuh, melakukan pengkajian kembali terhadap penyakit penyakit system imun untuk menambah pengetahua1. Kekebalann 


DAFTAR PUSTAKA


Husniawati, Risti. 2014.  “Mekanisme Pertahanan Tubuh”

(http://ristihusni.blogspot.com/2014/12//makalah-sistem-imun.html). Diakses  pada  13 September 2020

Khamidah, Siti. 2016. “Makalah Imunologi”

(http://blog.unnes.ac.id/hamidah/2016/04/28/makalah-imunologi). Diakses pada  13 September 2020

Unknown. 2015. “Sistem Imunitas Tubuh Manusia”

(http://mungkininiadalahblog.blogspot.com/2015/06/contoh-makalah-tentang-sistem-imunitas.html). Diakses  pada  13 September 2020

 Maulida, Tina. 2016 “Makalah Sistem Kekebalan Tubuh”

(http://duniakeperawatandanstorytina.blogspot.com/2016/05/babI-pendahuluan-1.html). Diakses  pada  13 September 2020

Yani. Muh. 2014. “Makalah Sistem Imun”

(http://muhammadyaniishak.blogspot.com/2014/08/makalah-sistem-imun.html). Diakses pada  13 September 2020

Komentar